Tuesday, May 5, 2015

Sumur Lokasi Nabi Yusuf AS Dibuang Saudaranya



Nabi Yusuf AS merupakan salah satu nabi yang memiliki kedudukan istimewa dalam tiga agama samawi, yakni Yahudi, Kristen dan Islam. Putra dari Nabi Ya’qub tersebut diperintahkan berdakwah untuk Bangsa Kan’an dan Firaun di Mesir. Kisahnya diabadikan dalam Alquran. Nama Yusuf terulang sebanyak 27 kali dalam Alquran. 

Kisah Yusuf AS mengajarkan hikmah dan pelajaran berharga sejak kecil. Mulai dari kisah pembuangannya ke sumur oleh saudara-saudaranya yang merasa iri dan cemburu, diselamatkan oleh kafilah dagang, hingga akhirnya menjadi pemimpin hebat di Mesir. Allah SWT memberikan mukjizat berupa kemampuan menakwilkan mimpi. 

Sumur yang berada di Nablus, Palestina ini diyakini sebagai tempat pembuangan Yusuf oleh 11 saudaranya sewaktu kecil. Tindakan saudaranya itu dipicu rasa cemburu kepada Yusuf. Kisah pembuangan tersebut diabadikan dalam surah Yusuf ayat 12. 

Setelah dimasukkan ke dalam sumur tersebut, Yusuf ditinggal oleh saudara-saudaranya tersebut. Kemudian Yusuf ditemukan oleh kafilah dagang yang kemudian menjualnya di Mesir. Orang yang membeli Yusuf adalah Qithfir, raja mesir yang bergelar el-Aziz.  
 

Lokasi Tambang Besi Dawud AS untuk Bahan Kuil Sulaiman



Nabi Dawud AS, dikenal memiliki keahlian sebagai pandai besi yang andal. Mengutip nationalgeographic.com, pada 28 Oktober 2008, ditemukan lokasi yang diduga sebagai pusat tambang besi pada masa Dawud dan anaknya, Sulaiman, di Yordania bagian Selatan.

Tidak hanya besi, tetapi juga berbagai jenis barang tambang meliputi emas, perak, tembaga, dan perunggu. Konon, bahan-bahan inilah yang dijadikan sebagai material pembangunan Kuil Sulaiman.

Dawud AS adalah keturunan dari Ya’qub. Garis keturunannya menyambung hingga Ibrahim AS dari jalur Ishaq. Dawud diangkat sebagai nabi diperkirakan pada 1010 sebelum Masehi. Kisah-kisah Nabi Dawud diabadikan dalam Alquran seperti cerita peperangan dengan Jalut dan mukjizat menaklukkan besi. Alquran menyebut nama Dawud AS sebanyak 16 kali.  

Allah SWT memberikan wahyu berupa Zabur. Bacaannya yang merdu terabadikan oleh sejarah. Hingga muncul iztilah mazamir atau nyanyian Dawud. Alam pun seraya bertasbih mengikuti senandung Sang Nabi ketika melantunkan Kitab Suci itu. Nabi Dawud adalah nabi bagi tiga agama Samawi yakni, Yahudi, Nasrani dan Islam. Ia meninggal pada usia 100 tahun lebih, risalahnya diteruskan oleh putranya, Sulaiman AS. 


Masjid Chakrabongse Tersembunyi di Balik Gemerlap Khao San Road




Jalan Khao san, merupakan sebuah jalan kecil yang terletak di pusat kota Bangkok. Kawasan ini dikenal sebagai pusatnya backpaker dari seluruh dunia dan tidak pernah sepi untuk dikunjungi.

Penginapan murah, tempat makan, sampai bar ditawarkan di sini. Jalan Khao San akan semakin hidup pada malam hari. Musik gegap gempita terdengar dari sejumlah bar-bar. Semakin malam, para turis akan berkumpul dam berjoged di sepanjang jalan. Pemandangan yang sangat lumrah di Jalan Khao San.

Namun dibalik gemerlapnya kawasan ini, sebuah Masjid berdiri kokoh, tersembunyi diantara bar dan hotel yang menjamur di jalan Khao San. Masjid bernama Chakrabongse ini berada di gang Trok Surao. Dari mulut gang akan terlihat papan kecil yang dipasang sedikit rendah, untuk sekadar memberikan tanda.

Para penjual makan halal juga berjejer di sepanjang jalan menuju Masjid. Meski terletak di gang sempit, bangunan Masjid ini cukup luas. Suasana tenang yang kontras dengan hirukpik di jalan Khao San.

Masjid Chakrabongse sudah berdiri sejak seratus tahun lalu. Tercatat 300 warga muslim menetap di sekitar masjid. Karena lokasinya yang tak jauh dari jalan Khao San, banyak turis Islam yang menyempatkan sholat di Masjid ini. Sehingga Masjid akan ramai setiap mendekati waktu sholat.

Ada pemandangan yang berbeda di masjid Chakrabongse setiap memasuki jam lima atau usai sholat ashar. Sekolah Al-qur'an yang berada tepat di depan Masjid ini setiap harinya  mengadakan kegiatan pendalaman agama untuk anak-anak di gang Trok Surao. Pendalaman berlangsung hingga mendekati waktu magrib.

Islam sendiri bukan agama mayoritas di Thailand. Sekitar 95 persen penduduk Thailand adalah pemeluk agama Buddha. Meski minioritas, Islam menjadi agama terbesar kedua di negeri gajah putih ini.

Negara ini juga berhasil menerapkan sistem toleransi beragama yang tinggi. Meski kuil bertebaran di setiap sudut kota, masyarakat muslim tetap diberikan izin untuk mendirikan masjid. Menurut thaiembassy.org, terdapat lebih dari 2000 masjid di Thailand, seratus di antaranya berada di ibu kota Bangkok.



Muslim Thailand Menuju Jalan Kebebasan




Selama ini banyak yang menilai bahwa Thailand adalah negara yang homogen dengan mayoritas penduduknya menganut agama Buddha sebagai agama resmi. Namun, ternyata Thailand ternyata menjadi tempat bermukim sekitar 64 juta penduduk yang memeluk agama Islam. 


Penduduk Negeri Gajah Putih ini juga banyak yang memeluk agama Islam, Kristen, Konghucu, Hindu, Yahudi, Singh, dan Thao. 



Muslim di Thailand tercatat sebagai kelompok minoritas kedua setelah etnis China. Diperkirakan, pemeluk agama Islam di Thailand ini berasal dari etnis Persia, Cham (muslim Kamboja), Bengali, India, Pakistan, serta etnis Melayu dari Sumatera, Kalimantan dan Malaysia.



Berbeda dengan umat Muslim di Thailand yang menyebar ke banyak tempat, tidak demikian dengan Muslim dari etnis Melayu yang ada disana. 



Onislam.net mencatat, Muslim Melayu cenderung mengelompok dan bermukim di provinsi-provinsi bagian selatan Thailand. Yaitu di Provinsi Pattani, Yala, Naratiwat, Songkhla, dan Provinsi Satun  yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia. 



Hal ini disebabkan karena muslim Melayu cenderung kesulitan untuk berintegrasi dengan budaya Thailand yang mayoritas berafiliasi dengan pemeluk agama Buddha. Terdapat Kesultanan Muslim yang menaungi masyarakat Muslim Melayu di Thailand. 



Kesultanan Muslim ini dinilai pemerintah Thailand sebagai kelompok separatis. Tak jarang, terjadi bentrok dan kekerasan antara pihak Kesultanan Muslim dengan pemerintah Thailand pada abad ke-18 silam. 



Pemerintahan Thailand yang dikuasai oleh Raja Thailand saat itu berupaya untuk menyatukan umat Muslim Melayu agar sama-sama masuk di bawah naungan Kerajaan Thailand. 



Namun, tetap saja mereka menolak karena masyarakat Muslim Melayu saat itu bersikeras untuk diintegrasikan dengan negara Melayu dan memerintah sendiri.

Dalam beberapa dekade, upaya penyatuan kaum Muslim Melayu dengan budaya dominan Thailand terus diupayakan oleh pemerintah. Namun, upaya besar-besaran dilakukan pada tahun 1940 saat pemerintahan Thailand dikuasai oleh partai nasionalis pimpinan Pibul Songkhram. 


Pihak partai nasionalis memaksa orang Melayu untuk menanggalkan identitas mereka sebagai Melayu dan Muslim agar bersatu di bawah pemerintahan Thailand. 



Tidak hanya itu, Muslim Melayu juga dicegah untuk mengenakan pakaian tradisional melayu denga  penutup kepada yang khas atau kerudung. Bahkan mereka juga dilarang untuk berbicara dengan logat Melayu. 



Agar tidak membuat perbedaan mencolok seperti sebelumnya, pemerintah juga meminta mayarakat Muslim Melayu untuk  mengadopsi nama Thai. Akses mereka untuk belajar agama Islam pun juga ditutup oleh pemerintah dan memaksa mereka untuk masuk agama Buddha.



Pemerintah juga menghapuskan pengadilan Islam untuk menangani urusan keluarga Muslim. Seluruh mahasiswa Muslim di Thailand juga diharuskan memberikan penghormatan kepada gambar Buddha di sekolah-sekolah umum.



Bila ada yang menolak untuk mematuhi kebijakan ini maka akan ditangkap dan diberi hukuman. Bahkan tak jarang berujung kepada penyiksaan. Kondisi ini tentu semakin memperburuk hubungan pemerintahan dengan kelompok Melayu Muslim yang berdomisili di wilayah selatan. 



Meskipun kemudian pemerintah melunak dengan mencabut segala aturan yang menyulitkan umat Islam di Thailand, akan tetapi sejarawan Asia Tenggara asal Singapura Michael Vatikiotis menilai bahwa ada jarak yang jauh antara pemerintah dengan kaum Muslim Melayu Thailand. 



Onislam.net menulis, saat dipimpin oleh PM Thaksin Sinawatra pun, upaya berdamai dengan Muslim Melayu pun urung terlaksana. Thaksin mencoba untuk memfasilitas pelajar dari selatan dalam bentuk beasiswa pendidikan.



Namun, Muslim Melayu bersikap untuk tidak menerima niatan dari Thaksin. Sebab, mereka menilai Thaksin hanya mencoba melakukan investasi agar kelak keturunan mereka memiliki hutang budi kepada pemerintahan. 



Di tengah upaya yang dilakukan oleh PM Thaksin, warga Bangkok justru semakin cenderung melihat stigma negatif kepada penduduk selatan. Mereka melabeli kelompok selatan sebagai pelaku krimimal yang berlindung di balik agama. 



Dengan propaganda itulah, pemerintah yang dikendalikan dari Bangkok berulang kali melakukan operasi militer untuk menopang upaya pemerintah.



Karena pemerintahan didominasi oleh etnis Thai dan agama Buddha, semakin kurangnya upaya integrasi melalui diplomasi untuk menempuh jalur perdamaian dengan kaum Muslim Melayu. 



Sementara kalangan Muslim Melayu juga semakin gencar menuntut agar pemerintahan Thailand untuk mengakui otonomi Muslim Melayu agar mereka dapat memerintah dan membuat kebijakan yang mengatur kehidupan mereka sendiri. 



Muslim Melayu meyakini dengan diberlakukannya otonomi khusus terhadap mereka, kaum Muslim Melayu diyakini dapat mengembangkan taraf hidup mereka karena selama ini mereka merasa tidak memperoleh pengayoman yang sama dengan penduduk dan penganut agama mayoritas di Thailand.



Mereka pun selalu menyuarakan agar pemerintah tidak melulu melakukan gertakan melalui aksi milter. Menurut mereka, dalam kondisi yang heterogen ini, pemerintah sebagai pihak yang menaungi semua warga yang berdomisili di Thailand harus mendambakan budaya saling menghormati dengan apa yang dianut dan duipercayai orang lain.





Meski berkali-kali diupayakan berdamai, namun konflik ini tetap saja terjadi di Thailand. Dengan berbagai macam hal sebagai pemicu, kejadian persinggungan antara pemerintah dengan Muslim Melayu di Thailand masih saja muncul ke permukaan.

Setelah konflik berkepanjangan yang sudah mengakar ratusan tahun, membuat sejumlah kalangan pemuda terpelajar dan mahasiswa Islam Thailand gusar dan mendesak kedua belah pihak untuk segera menyelesaikan persoalan.


Hal itu dilakukan agar perbedaan agama dan budaya tidak lagi menjadi persoalan di Thailand. Para mahasiswa aktif menggelar pertemuan untuk membahas ide-ide mereka dalam rangka merentangkan tali perdamaian antara pihak pemerintah dengan kaum Muslim Melayu yang berada di  selatan. 



Reuters mewawancarai seorang mahasiswa Muslim Thailand yang menjelaskan bahwa mereka kerap melakukan pertemuan di sebuah universitas yang ada di wilayah selatan, yaitu di Provinsi Pattani.



Pertemuan ini kerap digelar usai pemerintah menandatangani kesepakatan dengan kelompok Barisan Revolusi Nasional (BRN) pada Februari 2013 lalu. Mahasiswa menyadari adanya celah damai yang dapat diupayakan bila semua pihak mau melakukan dialog dengan intensif dan mau menghargai perbedaan satu sama lain. 



Mereka sadar bahwa cara untuk meredam konflik adalah dengan mengintegrasikan dua keinginan yang berbeda dari pemerintah dan kelompok Muslim Melayu. 



Ide-ide mahasiswa ini pun diamini oleh Wali Kota Yala Pongsak Yingcharoen. Pongsak yang berbicara atas nama warganya mengatakan, bahwa rakyat Thailand sangat tidak menyukai konflik yang berujung kepada aksi kekerasan.



“Warga lokal berharap kekerasan tak terjadi selama proses pembicaraan berlangsung. mereka berusaha warga memahami supaya proses perdamaian ini segera terwujud,” kata Pongsak.



Para pengamat mengatakan, adanya indikasi pemerintahan Thailand yang menyimpan niatan untuk mengakhiri ketegangan dengan Muslim Melayu di selatan.

Meskipun selama ini menilai tabu untuk mengakui wilayah selatan sebagai daerah yang memiliki otonomi khusus, namun akhir-akhir ini mereka sudah mulai memikirkan ke arah sana. Pemerintah menyadari upaya paksa yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun terbukti tidak membuahkan hasil yang sama-sama menguntungkan keduabelah pihak.


 “Kata otonomi menjadi kata yang tabu buat pemerintah, tapi sekarang mereka mau mendiskusikannya secara terbuka,” kata pengamat dari Asia Foundation Thomas Park. 



Friday, May 1, 2015

Kota-Kota Tertua di Dunia yang Wajib Dikunjungi




Perjalanan menjelajahi dunia merupakan impian semua pelancong. Apalagi bisa mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan sejarah dan budaya. Selain berwisata, kita juga belajar sejarah dari tempat yang didatangi.

Berikut ini beberapa kota tua yang berada dipelbagai belahan dunia yang bisa menjadi pilihan destinasi wisata sejarah di sela-sela penatnya beraktifitas, dilansir dari Womanitely,



Damascus, Syria
Selain menjadi ibukota Suriah, Damaskus juga merupakan kota terbesar di negara tersebut, dengan populasi lebih dari 4,5 juta orang. Sejarah kota ini berawal dari 10,000-8,000 SM (meskipun waktu yang tepat masih diperdebatkan oleh para peneliti sejarah) sehingga  Damaskus diakui sebagai salah satu kota tertua di dunia yang dihuni manusia. Terletak di antara Afrika dan Asia, kota ini memiliki lokasi geografis yang menguntungkan karena berada di persimpangan orientasi dan negeri Barat.

Athens, Yunani
Tempat lahirnya peradaban Barat ini adalah ibu kota Yunani dengan penduduk sekitar 3 juta orang. Sekarang telah dihuni selama lebih dari 7.000 tahun dan desain kota ini terinspirasi oleh Ottoman, Bizantium dan peradaban Romawi. Ini adalah tempat kelahiran filsuf yang luar biasa, penulis, dramawan, seniman dan gaya klasik yang mempengaruhi dunia.

Byblos, Lebanon
Byblos adalah salah satu kota tertua Phoenicia dan telah terus-menerus dihuni sekitar 5.000 tahun. Byblos secara langsung berhubungan dengan pengembangan abjad Fenisia, yang digunakan hingga sekarang. Byblos adalah tujuan wisata yang indah karena menawarkan tempat-tempat menakjubkan seperti benteng dan kuil-kuil kuno, pemandangan yang indah yang menghadap ke Mediterania, reruntuhan antik dan pelabuhan. 

Jerusalem, Israel
Yerusalem adalah salah satu kota yang paling sering dikunjungi dan menjadi tujuan agama yang paling penting di dunia. Yerusalem dikenal menjadi tempat suci bagi Yahudi, Kristen dan Muslim. Pada tahun 1981 Old Town ditambahkan ke Daftar Situs Warisan Dunia yang sudah dalam bahaya karena kota modern telah menyebar jauh melampaui batas-batas pusat kota peninggalan masa lalu.

Varanasi, India
India adalah tempat kelahiran peradaban kuno yang terkenal di dunia. Kota suci India, Varanasi terletak di tepi sungai Gangga dan dianggap sebagai salah satu kota tertua di dunia. Orang-orang Hindu percaya bahwa kota ini didirikan oleh Dewa Siwa dan sejarah kota berawal dari  abad ke-12 SM.  Mark Twain pernah mengatakan kata-kata yang indah tentang kota ini, "Banaras lebih tua dari sejarah, lebih tua dari tradisi, lebih tua bahkan dari legenda, dan terlihat dua kali lebih tua mereka semua disatukan." Varanasi merupakan pusat budaya dan agama yang luar biasa dengan banyak penyair terkenal, penulis dan musisi terkonsentrasi di kot

Pesona Wisata Sejarah



Wisata tidak selalu berhubungan dengan menghambur-hamburkan uang dengan cara tidak penting. Beberapa wisatawan menghambiskan liburannya dengan menjelajahi tempat-tempat bersejarah untuk mempelajari budaya serta peninggalan-peninggalan sejarah kota tersebut.

Di lansir dari Womanitely, berikut ini bisa menjadi pilihan menghabiskan masa liburan dengan belajar mempelajari sejarah sebuah kota yang sudah ada sebelum kita lahir.

Cholula, Mexico

Lebih dari 2.500 tahun yang lalu kota Cholula dikembangkan dari berbagai desa yang tersebar dan telah menjadi tempat tinggal berbagai budaya Amerika Latin seperti Olmec, Toltecs, dan Aztec. Nama kota ini berarti "tempat penerbangan" di Nahuatl dan tempat itu sebelumnya disebut Acholollan. Ketika kota itu ditaklukkan oleh Spanyol, dan mulai berkembang, Cortez pernah menyebut Cholula "kota paling indah di luar Spanyol." Daya tarik yang paling menonjol dari kota ini adalah Piramida Besar Cholula yang dikenal sebagai yang terbesar dibuat oleh manusia.

Jericho, Palestina

Jericho telah diakui sebagai kota tertua ketika enggalian arkeologi telah membuktikan dengan adanya tempat tinggal manusia sejak hampir 11.000 tahun yang lalu dengan setidaknya 20 pemukiman. Namun saat ini Yerikho adalah kota kecil dengan penduduk 20.000 orang. Situs yang paling terkenal Jericho termasuk Tell es-Sultan, Istana Hisham dan Shalom al Yisrael Synagogue Mosaic Floor.

Aleppo, Syria

Kota Aleppo adalah kota terbesar di Suriah karena dihuni oleh lebih dari 2 juta penduduk. Aleppo memiliki lokasi geografis yang sangat menguntungkan, terletak di pusat Jalur Sutra yang menghubungkan Asia dan Mediterania. Wilayah kota ini telah dihuni selama lebih dari 8.000 tahun, tetapi penggalian arkeologi telah menemukan bukti tempat tinggal hampir 13.000 tahun yang lalu.

Plovdiv, Bulgaria

Sejarah Plovdiv kembali ke 4.000 SM, yang dibuktikan oleh banyak penggalian Neolitik. Selama berabad-abad Plovdiv telah diperintah oleh banyak kerajaan, meski awalnya hanya kota Thracian. Kemudian ditaklukkan oleh Roma. Di Abad Pertengahan Plovdiv merupakan wilayah Bulgaria, Bizantium, dan kerajaan Ottoman. Hanya pada tahun 1885 kota ini menjadi bagian dari Bulgaria. Saat itu, Plovdiv merupakan  kota terbesar kedua di Bulgaria dan menjadi pusat ekonomi, pendidikan dan budaya yang signifikan.

Luoyang, Cina

Beberapa daftar kota tertua di dunia diduduki oleh kota-kota di daratan Mediterania, Luoyang merupakan kota tertua yang berada di Asia. Kota ini juga dianggap sebagai pusat geografis Cina dan tempat lahir kebudayaan dan sejarah Cina. Tidak ada kota lain di Cina yang telah hidup keluar begitu banyak dinasti dan kaisar seperti Luoyang. Kota ini telah dihuni selama lebih dari 4.000 tahun dan saat ini dihuni oleh hampir 7.000.000 orang.

Tips Ampuh Saat Berkunjung ke Negara Mayoritas Muslim



Tak ada tempat lain yang lebih menarik bagi para pecinta wisata alam dan sejarah, kecuali wisata ke negara-negara muslim. Terbentang dari Afrika, Timur Tengah, sebagian kawasan Eropa, hingga kepulauan Indonesia, negara-negara itu memiliki segalanya.

Bentang alam yang mempesona, kekayaan sejarah, kuliner khas, keramahtamahan penduduk, hingga budaya masyarakat yang unik. 

Namun, kita juga butuh bekal pengetahuan dan persiapan lebih sebelum mengunjungi sejumlah negara muslim, terlebih tidak sedikit negara muslim yang hari ini sedang dalam kondisi bergejolak. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan sebelum mengunjungi negara Muslim. Laman intheknowtraveler.com merangkum tipsnya.

1. Buatlah janji di masjid setempat dan duduk dengan syekh untuk lebih memahami agama Islam. Apalagi jika Anda non-muslim, tidak ada salahnya memahami agama dari masyarakat yang akan dituju.

2. Kunjungi perpustakaan setempat atau toko buku untuk mengumpulkan informasi tentang negara, entah itu hal-hal sederhana seperti kondisi geografi atau fakta sejarah yang lebih intens.

3. Baca surat kabar atau informasi tentang negara itu secara online untuk mendapatkan informasi terbaru. 

4. Cobalah untuk menjalin hubungan dengan penduduk asli atau koresponden, baik melalui tatap muka maupun email. Hal itu penting untuk mengetahui kondisi terkini negara yang bersangkutan dan daerah mana  yang paling aman untuk dikunjungi.

5. Pelajari tentang makanan dan minuman. Jika Anda sensitif, jangan coba-coba dengan kuliner lokal setempat.

6. Cari tahu tentang kultur negara yang akan dituju. Misalnya, kita harus tahu bahwa di negara-negara Muslim seorang pria tidak bisa berjabat tangan seorang wanita.



7. Pelajari kalimat-kalimat sederhana untuk membuka percakapan.

8. Patut diingat bahwa di sejumlah negara Muslim toko-toko dan restoran tutup selama waktu salat.

9. Jika Anda dapat mengambil kelas bahasa atau membeli kaset audio, hal itu akan sangat membantu kita berkomunikasi.

10. Pastikan Anda tahu di mana lokasi kedutaan, rumah sakit, dan toko-toko yang menjual produk yang Anda butuhkan.

11. Cari tahu informasi tentang kurs mata uang, tarif angkutan umum, dan barang-barang keperluan sehari-hari sehingga Anda tidak mudah ditipu.

12. Miliki pikiran dan hati yang terbuka.